Roadshow FBLB, Diharapkan Mampu Menarik Ribuan Wisatawan

Liburan musim panas luar negeri tidak dipungkiri mulai membuat Bali kebanjiran wisatawan. Momen tersebut ternyata dimanfaatkan oleh pemerintah kabupaten Jayawijaya Papua melakukan road show promosi festival tertua di Papua, yaitu Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) di Bali.

 

“Obyek wisata di Bali yang paling terkenal di Indonesia dan antara Bali dan Papua ada kemiripan budaya. Kami mau wisatawan disini nantinya bisa langsung datang ke festival. Mudah-mudahan dengan adanya roadshow ini dampaknya bisa terasa nanti dalam festival,” ujar Sekda Jayawijaya, Yohanes Walelo ditemui Sabtu (15/7) lalu.

 

Dengan berlokasi diketinggian 4500 dari permukaan laut, festival yang akan digelar pada tanggal 8-10 Agustus nanti diharapkan mampu menarik 1000 wisatawan lebih. Festival Budaya Lembah Baliem ke-28 tersebut adalah upaya Pemkab Jayawijaya melestarikan budaya Indonesia, khususnya Jayawijaya Papua. Dimana dahulu sebelum ada modernisasi Pemerintahan dan agama di Jayawijaya, utamanya yang berada di lereng pegunungan banyak terjadi perang antar suku.

 

“Sekarang ini dianjurkan tidak ada lagi seperti itu, tapi budaya perang itu tetap kita lestasikan melalui event festival ini. Yang baik dipertahankan dan yang jelek dihilangkan. Seperti ketika ada kerabat yang meninggal dulu biasanya ada keluarganya yang melakukan potong jari dan telinga. Tradisi jelek ini kita tidak perbolehkan lagi,” paparnya.

 

Wisatawan yang ingin melihat bagaimana kondisi perang terdahulu antar suku di Jayawijaya,  diundang langsung untuk datang dalam festival tersebut. Akan ada 40 kecamatan yang akan tampil dalam festival perang tersebut, ditambah lagi dari suku Yali dan Tolikara, serta karnaval dan kolaborasi tarian kolosal dengan beberapa daerah di Papua.

 

Selain itu budaya dan seni yang ada di Jayawijaya akan ditampilkan, seperti karapan babi, atraksi picon (musik tradisional Jayawijaya), sikoko, buladan, anyaman kerajinan, lomba panah dan yang paling beda adalah pelemparan sege (tombak) yang akan memecahkan rekor muri dengan seribu tombak.

 

“Ini adalah bagian kerjasama dan kolaborasi nyata kebudayaan Jayawijaya dengan Bali, jika tidak ada halangan maka perwakilan Bali akan hadir mengisi acara. Kita juga akan libatkan wisatawan, seperti lempar sege dan lomba panah. Walapun festival ini adalah festival perang, tapi ini hanya simbolik. Tamu yang datang juga nyaman dan aman, karena areal perang jauh dari penonton,” tegasnya.

 

Fasilitas diakuinya masih menjadi kendala selama ini, sebab akses yang bisa ditempuh ke Jayawijaya hanya melalui penerbangan yang biayanya tentu tidak murah. Dalam kesempatan tersebut ia juga berharap agar Menteri Pariwisata Arief Yahya bisa hadir dalam festival, sebab selama ini Kemenpar diakuinya tidak pernah hadir dalam festival Budaya Lembah Baliem.  

 

“Kami sudah bersurat untuk meminta kehadiran menteri pariwisata. Kehadiran beliau ini  sangat memberikan semangat dan motivasi untuk kami agar tetap melestarikan budaya. Tidak perlu kami mendapatkan bantuan, tapi cukup hadir saja sudah sangat senang” harapnya. (FRP-TEKMEDIA)